Jumat, 29 April 2011

MASALAH KURANG BERKEMBANGNYA OBAT TRADISIONAL DI INDONESIA


MASALAH KURANG BERKEMBANGNYA OBAT TRADISIONAL DI INDONESIA

Kurang berkembangnya penggunaan obat tradisional  ke masyarakat luas disebabkan oleh masalah sebagai berikut ini:
Masalah Utama Ketidak percayaan terhadap Obat Tradisional/Jamu
Masalah utama ketidak percayaan bahwa obat tradisional tidak dapat menyembuhkan karena menurut para pakar pengobatan (pemerintah, dokter, apoteker) bahwa obat tradisional hanya dapat menyembuhkan secara psikologis atau efek plasebo saja.
Pernyataan ini disebabkan karena pandangan para ahli pengobatan modern (dokter, apoteker) dan pemerintah yang kurang mendukung penggunaan obat tradisional.

Pandangan Para  Pakar Pengobatan Modern dan Pemerintah
  1. Dasar pengobatan modern menggunakan satu bahan aktif untuk digunakan penyakit tertentu. Sebenarnya bahan baku obat adalah hasil isolasi dari salah satu tanaman misal kina, kemudian diteliti cara membuat secara sintetik dan turunannya sehingga dapat membuat secara masal dengan harga murah. Penelitian isolasi dan uji klinik obat baru sangat panjang dan mahal, hal ini mengakibatkan obat.mahal. Mereka  lupa bahwa obat modern mempunyai efek lebih beracun dibandingkan obat tradisional.
  2. Promosi obat modern sangat gencar dan menggunakan dana sangat besar sekitar 50 – 80 % untuk meyakinkan dokter dengan segala cara.
  3. Pendidikan kedokteran  tidak diperkenalkan dengan pengobatan menggunakan obat tradisional. Bahkan pendidikan farmasi yang telah diperkenalkan dengan obat tradisional sejak tingkat pertama sampai tingkat terakhir masih banyak yang tidak percaya bahwa obat tradisional dapat menyembuhkan.
  4. Para pakar pengobatan dan pemerintah lupa bahwa obat modern hanya dapat menyembukan 30 % dari penyakit yang ada di alam raya ini.
  5. Para pakar pengobatan dan pemerintah lupa bahwa Insya Allah semua penyakit ada obatnya, hanya manusia belum menemukan formula obat modern ataupun obat tradisional yang tepat.

Kelemahan obat tradisional meliputi:
  1. Peraturan pemerintah tentang obat tradisional adalah toleransi. Toleransi artinya obat tradisional boleh digunakan tetapi tidak dianjurkan. Pada registrasi obat tradisional meskipun diperbolehkan menulis kegunaan obat tradisional obat: Secara tradisional digunakan untuk mengobati tetapi kenyataannya dituliskan membantu/memelihara. Hal ini menimbulkan ketidak percayaan masyarakat terhadap obat tradisional.
  2. Para dokter kerap kali menyatakan bahwa jamu dapat mengendap di ginjal dan merusak hati. Hal tersebut hanya mitos, karena penelitian di RSU Dr SUTOMO di klinik pengobatan tradisional menyatakan bahwa keberhasilan untuk pengobatan batu ginjal dan fungsi ginjal terberbesar adalah 40 % dan tidak ada tanda-tanda kerusakan ginjal dan hati. Peneliti dari Jepang menyatakan bahwa keuntungan penggunaan obat tradisional terhadap penderita gangguan fungsi ginjal adalah sebagai diuretik tetapi tidak mengeluarkan mineral dan protein jadi penyakit ginjal tidak kambuh lagi. Hal yang menjadi masalah dari obat diuretik modern adalah selain sebagai pelancar air seni disertai pula pengeluaran mineral dan protein sehingga penyakitnya selalu kambuh.
  3. Belum ada formulasi yang tepat obat tradisional yang beredar untuk penyakit tertentu/ spesifik. Ada beberapa sediaan fitofarmaka yang beredar di Indonesia tetapi penjualannya kurang berhasil. Hal ini disebabkan karena penetapan  dosis yang kurang tepat dan formulasi yang kurang tepat. Karena dosisnya terlalu kecil untuk mengobati suatu penyakit tertentu
  4. Dari pengalaman kami sebagai inventor jamu Milliherbs no paten P00200400356, dosis obat tradisional dapat dikecilkan sampai 500- 800 kali lebih kecil dengan campuran lebih besar dari 30 jenis sayuran, rempah dan tanaman obat yang tidak beracun. Dosis lazim untuk pengobatan sehari 3 kali 500 mg herba kering dan mempunyai 48 sediaan untuk penyakit spesifik. Dalam studi kasus selama 9 tahun keberhasilannya lebih besar dari 90 %, serta ketidak berhasilan disebabkan karena putus obat.

Pandangan masyarakat terhadap pengobatan alternatif
  1. Pada umumnya masyarakan mencari pengobatan pada orang pinter dan obatnya pada umumnya katanya bedasarkan wangsit sehingga kesembuhan psikologis dan beberapa waktu kemudian timbul lagi dan lebih parah. Bahayanya bila obatnya menggunakan herba beracun seperti rebung mentah dapat mematikan karena mengandung sianida (HCN). Saran Rebung seharusnya digodok dulu agar HCN keluar dan airnya dibuang, dicuci  baru dimasak.
  2. Mitos jamu dapat mengendap di ginjal sudah mengendap dipikiran masyarakat luas terutama masyarakat menengah keatas, sehingga mereka takut untuk mencoba jamu.
  3. Masyarakat menengah ke atas lebih mempercayai suplemen dari luar negeri atau jamu dari Cina dibandingkan jamu dari Indonesia, meskipun harganya sangat mahal dan khasiatnya dipertanyakan. Suplemen sama dengan jamu.
  4. Masyarakat luas menganggap pengobatan alternatif dapat mengobati secara cepat dan cespleng. Dari pengamatan studi kasus kami, penderita penyakit kronis atau kanker, bila tidak sembuh selama 15 hari sudah protes dan ada yang putus obat. Ada pula penderita kanker yang setiap hari selalu mengeluh tentang kesakitannya dan tawar-menawar kapan sembuhnya. Sebenarnya pengobatan untuk penyakit kronis seperti pengobatan modern. adalah untuk selamanya. Oleh karena itu penderita penyakit kronis sering kali menggunakan jamu yang mengandung bahan kimia (kortikosteroid) seolah-olah sembuh, tetapi menimbulkan efek samping yang membahayakan kesehatan. Tetapi anehnya ada dokter yang menyaran menggunakan obat ini.
  5. Masyarakat sering latah menggunakan herba beracun yang banyak digunakan (booming). Pemerintah kurang tanggap untuk meneliti effek samping herba yang sedang naik daun (booming) dan menetapkan dosisnya. Misal pada jaman dulu komfre digunakan sedunia setelah diteliti  ternyata beracun. Pada saat ini mahkota dewa dengan dosis lazim 67 % dari Ld 50 pada mencit, jadi kalau minum 3 kali sehari kira-kira 200% dari Ld 50. Ld 50 pada mencit  artinya lethal doses 50 % artinya bila dosis tersebut diberikan ke mencit 50 % mencit mati.  Penggunaan daun katuk untuk pelancar ASI harus dipertanyakan karena di Taiwan dan Amerika terjadi epidemik keracunan jus daun katuk segar 150 g menimbulkan bronkiolitis yang parah. Saran; Untuk mengurangi daya racun daun katuk adalah daun katuk harus dimasak dari dan jangan dikomsumsi setiap hari..
  6. Para Industriawan obat tradisional latah menggunakan herba dari luar negeri (glinkobiloba, echynase, clorophyl) karena pangsa pasar lebih tinggi dibandingkan tanaman obat Indonesia. Patikan kebo (asma) dan pegagan (tonik otak), kanker (kunyit), nyeri (jahe) telah digunakan sebagai fitofarmaka dan dipatenkan di luar negeri. Karena mereka lupa atau tidak tahu bahwa tanaman obat Indonesia telah digunakan di Cina, Australia, dan Negara maju lainnya, serta kembali ke Indonesia dengan harga yang sangat mahal.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar